Freeducation, Pendidikan atau Sekolah Gratis? Why Not?

On July 10, 2012 by AanKhan

sekolah gratisJakarta, AanKhan.com – Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang kubur. Kalimat tersebut meyakinkan kita bahwa dunia pendidikan tak pernah akan mati, hingga subyek belajar itu mengalami kematian. Bahkan hingga kini dunia pendidikan semakin menggema hingga pelosok-pelosok. Dikota besar saja semakin digalak khan sekolah gratis terutama oleh calon pemimpin daerah yang akan menduduki kursi pemerintahan melalui jargon atau slogan yang membumbu. Padahal di dusun-dusun sejak dahulu mungkin hingga kini masih dapat kita temui sekolah “GRATIS” atau menurut istilah saya freeducation. Kalau kita masih ingat bagaimana sekolah atau pihak guru dibayar tidak dengan uang, namun dengan hasil panen yang dimiliki oleh orangtua sipembelajar. Ketika panen beras maka sang orangtua pun membawakan beras dalam karung, pisang, ketela dan lain sebagainya. Dan ini pun dikarenakan begitu pedulinya atau hormatnya orangtua terhadap guru sebagai orangtua kedua di luar rumah dalam memberikan pengajaran kepada anaknya.

Berbeda dengan kota besar yang telah meninggikan gedung-gedung dan untuk pengurusannya pun dibutuhkan biaya besar pula. Oleh karena itu, diluar pemerintahan sekolah gratis atau freeducation (pendidikan gratis) menjadi program langka dikarenakan semakin tinggi jenjang sekolah semakin sedikit jumlah kursi sekolah yang disediakan. Kondisi tersebut bila digambarkan seperti piramida berlapis. Misal, lulusan SD 100 orang yang tertampung oleh SMP Negeri hanya 50 saja dan dari 50 lulusan SMP tersebut yang dapat ditampung SMA Negeri hanya 30 kursi. Sehingga mereka yang tidak tertampung harus masuk ke sekolah non negeri, dan lagi-lagi sekolah ini jauh dari gratis alias berbayar. Nah, melihat realita seperti ini saya berpikiran mengapa tidak dibuat saja sekolah “gratis” berbayar? Maksudnya? Sebelum dilanjut mending ngeteh dulu atau ngopi plus nyemil yang lainnya, biar gak tegang banget.

Baik sekarang kita lanjut bahasan idenya. Sekolah gratis kok tetep bayar? Bila kita pernah bekerja disebuah perusahaan pastilah pemilik perusahaan mengharapkan keuntungan karena dibutuhkan biaya operasionalnya, betul? Oke, bila perusahaan ini ternyata terus berkembang maka akan banyak keuntungan yang diperoleh, bahkan keuntungan akan berlipat bila perusahaan mampu menjual saham pada siapapun yang ingin membeli. Dalam hal ini berarti perusahaan tersebut dimiliki oleh yang punya saham, betul? Dan pengelolaan atau manajemen operasionalnya masih dikelola oleh manajemen perusahaan saat itu.

Dari tulisan diatas, saya berpikiran bahwa mungkinkah formula tersebut digunakan untuk dunia pendidikan? Begini alur konsepnya. Buat sobat yang hobi bisnis pendidikan, jika kita ingin mendirikan sekolah pastilah butuh modal. Modal tersebut dapat diperoleh dari beberapa orang yang percaya akan keuntungan dan keunggulan sekolah. Berdasarkan kebutuhan dan modal yang diperlukan maka bisa dihitung berapa lama modal akan kembali dan keuntungan diperoleh selanjutnya. Dalam kegiatannya, setiap sekolah menerapkan uang pendaftaran, uang pangkal, sumbangan gedung dll, dkk dan banyak lainya. Nah, sebagian uang inilah yang dikelola dan dapat dikonfersikan menjadi saham. Sehingga setiap orangtua yang menyekolahkan anaknya di sekolahan tersebut memiliki andil dalam bentuk saham (investasi). Dan setiap tahunnya memperoleh informasi terkait dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Bila ada keuntungan dapat dibagikan kepada pemilik saham (investor) dalam hal ini adalah orangtua siswa itu sendiri. Jadi secara sadar maupun tidak sadar, orangtua ketika menyekolahkan anaknya bukan saja anak menjadi investasi masa depan namun sekolah tempatnya belajar menjadi investasi ekonomi masa depan. Dari formula ini saya berkesimpulan bahwa kita bisa bangun bersama sekolah gratis berbayar. Dan siapapun yang terlibat dalam sekolah tersebut memiliki tanggungjawab bersama. Inilah konsep freeducation atau pendidikan gratis yang saya maksud khan. Gimana menurut SOBAT? Ayo berbagi untuk pendidikan Indonesia.

One Response to “Freeducation, Pendidikan atau Sekolah Gratis? Why Not?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>