Crackership vs Leadership

On March 10, 2011 by AanKhan

Negeri Indonesia memang sangat mengagumkan. Negeri, dimana saat ini saya menulis artikel yang sedang Anda baca. Kenapa mengagumkan? Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan sangat eksotik bagi Anda yang hobinya jalan-jalan atau traveling, menjadi salah satu tempat pariwisata pujaan. Namun, di sisi lain banyak pula peristiwa alam yang terjadi di negeri ini, gempa, tsunami, lumpur sidoarjo, dan peristiwa lainnya yang mengakibatkan keretakan atau rekahan lempengan. Dari sekian banyak peristiwa, negeri Indonesia pun dijadikan ladang bagi para peneliti asing maupun lokal sebagai laboratorium fenomena alam.

Dengan berbagai peristiwa alam tersebut, kita dapat melihat bagaimana antusiasnya setiap orang mengambil peran untuk membantu orang yang terkena peristiwa tersebut dengan segala daya upaya. Artinya ada nilai yang terus tumbuh untuk membahagiakan, memberi manfaat pada yang lainnya tanpa melihat status ataupun kasta, inilah yang dalam kalimat universal para nabi yaitu rahmatan lil alamin. Lalu apa hubungannya dengan judul crackership vs leadership?

Seperti biasa, saya meluangkan waktu untuk mampir di sebuah toko buku. Dari sekian ribu buku yang terpampang, saya melihat sebuah buku yang sampulnya menarik saya untuk menyentuhnya. Sebelumnya, saya sudah mendengar melalui radio delta yang dibawakan Om Farhan, mengenai pernyataan Rhenald Kasali. Saya pun penasaran untuk segera mencarinya. Dan untungnya lagi saya bisa segera membaca isi buku tersebut. Buku apa sih? ini dia cuplikannya.

Setelah meraih sukses dengan sederetan buku tentang manajemen, Rhenald Kasali kembali merilis buku berjudul Cracking Zone. Kali ini guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, berbicara tentang perubahan yang tidak bisa dihindari umat manusia: era digital. Buku yang mengupas tentang orang-orang yang mampu merombak tatanan organisasi terutama dunia bisnis.

Buku yang terdiri dari 356 halaman ini diisi oleh berbagai fakta dan pengalaman orang dan industri yang dinilai Rhenald menyandang gelar crackers. Dalam buku ini dituliskan perubahan yang kecil maupun besar terjadi di tanah air yang diamati oleh penulis dan tim dalam kurun waktu satu tahun. Fenomena tersebut terjadi sebagai dampak cracking oleh banyak pelaku usaha.

Cracking zone terbentuk karena empat poin, yaitu pertama pendapatan per kapita Indonesia yang telah mencapai 3.000 dolar AS pada 2010, kedua peningkatan pengguna telepon selular hingga 180 juta orang, ketiga menguatnya gejala freemium (misal internet), dan keempat lahirnya generasi terkoneksi (Gen C).

Poin-poin tersebut mempengaruhi perilaku konsumen dan prilaku bisnis yang menimbulkan patahan atau retakan yang menjadikan volume pasar semakin membesar. “Pertambahan volume ini hanya dapat dilihat dan dimanfaatkan oleh seorang cracker,” katanya.

Dia mengatakan, perubahan itu menimbulkan banyak tantangan dan ancaman, namun pada waktu bersamaan juga membuka peluang kepada mereka yang mampu melihat dan memanfaatkannya. Buku ini memberikan peta baru perubahan beserta patahan-patahan yang masih akan terjadi, dan akan memberikan panduan agar bisa menjadi cracker yang handal.

“Pembaharuan yang dilakukan bukan tanpa resiko, karena jika tidak waspada maka mereka akan terjepit dan terkubur dalam retakan yang diciptakannya sendiri.”

Para crackers, menjadikan transisi gaya hidup serba digital sebagai peluang-peluang baru. Crakers melakukan pembaharuan tidak hanya pada institusi atau instansi di tempat mereka berkiprah, namun juga terhadap industri.

Perubahan mental dari karakter kucing ke karakter cheetah mutlak diperlukan,” jelas pendiri Rumah Perubahan ini. Inilah arah perubahan dari kepemimpinan atau leadership meningkat ke crackership yang mampu menerobos di antara retakan dan mengambil peluang untuk keuntungan lingkungan.

Incoming search terms:

  • rhenald kasali rangkuman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>